.htaccess
.htaccess adalah file konfigurasi per-direktori di server Apache (dan beberapa setup kompatibel seperti mode tertentu LiteSpeed). Ditaruh di document root atau subfolder, ia mengatur redirect, proteksi folder, rewrite URL, cache headers, dan paksa HTTPS.
Satu titik koma atau flag yang salah bisa membuat seluruh situs error 500. Karena itu file ini kuat sekaligus berisiko jika diedit tanpa cadangan.
Analogi Sederhana
Jika server adalah gedung, .htaccess seperti peraturan di papan pengumuman tiap lantai: berlaku untuk folder itu dan turunannya, tanpa harus membuka ruang kontrol utama. Peraturan lantai yang bertentangan bisa membuat pengunjung bingung — atau ditolak masuk.
Yang Sering Diatur lewat .htaccess
- Redirect domain, www, dan HTTP → HTTPS
- Pretty permalink WordPress (
mod_rewrite) - Password folder, blokir IP, larang directory listing
- Custom error page
- Aturan cache browser (sering bentrok dengan plugin cache)
Contoh Aman (Ilustrasi)
# Paksa HTTPS (contoh umum — sesuaikan kebutuhan)
RewriteEngine On
RewriteCond %{HTTPS} off
RewriteRule ^ https://%{HTTP_HOST}%{REQUEST_URI} [L,R=301]
Jangan copy-paste aturan acak dari forum tanpa backup file lama. Simpan salinan .htaccess.bak sebelum eksperimen.
Apache vs Nginx
File ini hanya relevan jika web server membaca .htaccess. Nginx murni biasanya memakai config server, bukan file per folder. Saat migrasi antar host, aturan rewrite sering harus diterjemahkan. Lihat juga web server.
Yang Perlu Anda Perhatikan
- Selalu backup sebelum edit
- Error 500 setelah edit → rename
.htaccesssementara untuk isolasi - Plugin cache/security sering menulis ulang file ini
- Terlalu banyak aturan di subfolder mempersulit debug
- Uji redirect di mode penyamaran agar cache browser tidak menyesatkan
FAQ
Saya tidak melihat file .htaccess?
File tersembunyi (diawali titik). Aktifkan “show hidden files” di File Manager cPanel atau ls -a lewat SSH.
Apakah .htaccess dipakai di Nginx?
Tidak secara native. Aturan harus diterjemahkan ke config Nginx atau panel yang men-generate config.
Boleh banyak .htaccess di subfolder?
Boleh; aturan digabung hierarkis. Semakin banyak, semakin sulit debug — prefer aturan di root jika cukup.
Siapa yang menulis .htaccess saya?
Sering WordPress, plugin security, atau cache. Catat perubahan manual di luar plugin agar tidak tertimpa saat update.
Disclaimer: Artikel WikiHosting disusun untuk tujuan edukasi dan referensi. Teknologi hosting terus berkembang, sehingga beberapa informasi teknis mungkin berubah seiring waktu.
